Senin, 27 Juni 2011

Cappuccino

Dari cangkir itu, nampak kepulan uap yang mengguar. Mengambang. Kemudian hilang.
Berulang kali seperti itu. Hingga bibir gelas berembun. Uap menghilang. Dari panas, hangat, hingga menjadi dingin.
Kupejamkan mata. Menghirup harumnya. Secangkir cappuccino dalam genggamanku. Aromanya, mengantarkan ku untuk berjumpa dengan nya.
Tegukan pertama, mengingatkanku pada senyumnya. Senyum yang selalu tulus dan semanis cappucino. Tapi terkadang sedikit mengandung rasa pahit, karena ia bukan air tebu yang selalu manis.
Tegukan kedua, mengantarkanku mendengar suaranya. Suara embunnya yang selembut busa cappucino.
Tegukan terakhir, menunjukkan ku pada pandangan matanya. Mata coklat yang bersinar. Teduh. Seperti warna cappuccino.
Di akhir tegukan ku, kurasakan semuanya berakhir.
Uap cappuccino yang seharum tubuhnya, manis cappuccino yang semanis senyumnya meski kadang terasa pahit, suaranya yang selembut buih cappuccino, mata yang secoklat cappuccino, hangat segelas cappuccino yang sehangat genggaman tangannya...
Kini cangkirku kosong... Dingin...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar